histeri massal

sejarah kejadian ganjil saat satu orang pingsan memicu ratusan lainnya

histeri massal
I

Bayangkan kita sedang berada di sebuah pabrik tekstil yang pengap pada tahun 1960-an. Suara mesin bergemuruh. Udara terasa berat. Tiba-tiba, seorang pekerja perempuan menjerit, memegangi dadanya, lalu jatuh pingsan. Teman di sebelahnya panik, napasnya ikut tersengal, lalu ia pun ambruk. Dalam waktu kurang dari satu jam, puluhan pekerja tergeletak di lantai dengan gejala yang persis sama. Sesak napas, pusing, dan kejang. Pabrik ditutup paksa. Tim medis berdatangan dengan pakaian pelindung. Mereka mencari kebocoran gas beracun, virus mematikan, atau makanan yang terkontaminasi. Hasilnya? Nihil. Udara bersih. Makanan aman. Tidak ada racun sama sekali. Lalu, apa yang sebenarnya baru saja melumpuhkan puluhan orang sehat ini secara serentak?

II

Kejadian semacam ini bukan sekadar mitos usang. Pernahkah kita mengingat saat upacara bendera di sekolah dulu? Satu siswa pingsan karena belum sarapan, lalu mendadak tumbang beruntun lima belas anak lainnya dari barisan yang berbeda. Di abad pertengahan, fenomena ini memicu Dancing Plague atau wabah menari di mana ratusan orang menari tanpa henti hingga tewas kelelahan. Pada tahun 1962, ada Tanganyika Laughter Epidemic, di mana ribuan anak sekolah tertawa tanpa bisa berhenti selama berbulan-bulan. Dulu, orang-orang menyalahkan ilmu hitam, kutukan, atau roh jahat. Di era modern, kita menyalahkan polusi, vaksin, atau radiasi gawai. Tapi sains modern menemukan pola yang jauh lebih ganjil. Ada sebuah patogen yang sama sekali tidak kasat mata, tidak memiliki DNA, namun bisa menyebar lebih cepat dari virus influenza. Patogen itu adalah ketakutan.

III

Sekarang mari kita bedah perlahan. Kita tahu bahwa penyakit itu menular. Tapi, bisakah sebuah ide menular secara fisik? Otak manusia dilengkapi dengan apa yang disebut mirror neurons atau neuron cermin. Inilah alasan kenapa saat kita melihat teman kita menguap, rahang kita otomatis ikut terbuka. Sistem ini membuat kita sangat empatik sebagai makhluk sosial. Namun, bagaimana jika yang kita "cerminkan" adalah sebuah kerusakan sistem? Saat satu orang tumbang, otak kita merekam sinyal bahaya. Masalahnya, fenomena pingsan massal ini tidak pernah terjadi di acara pesta pantai yang santai. Ia selalu terjadi di lingkungan dengan stres kronis yang tinggi. Asrama yang ketat, pabrik yang menekan, atau sekolah dengan tuntutan ujian yang berat. Otak orang-orang di dalam sana ibarat bom waktu yang sedang berdetak, menunggu satu saja pemicu untuk meledak. Tapi, bagaimana caranya stres di pikiran bisa benar-benar mematikan fungsi motorik tubuh kita?

IV

Di sinilah letak kejutan besarnya. Dalam dunia medis dan psikologi, fenomena ini disebut Mass Psychogenic Illness (MPI) atau penyakit psikogenik massal. Ini bukanlah sebuah drama. Mereka yang pingsan sama sekali tidak pura-pura. Gejala fisik yang mereka alami seratus persen nyata. Ini adalah kebalikan dari efek plasebo, yang biasa disebut efek nocebo. Ketika otak kita terus-menerus ditekan oleh stres, bagian otak bernama amigdala (pusat rasa takut) menjadi sangat sensitif. Saat amigdala melihat orang lain pingsan, ia salah membaca situasi. Otak langsung menekan tombol alarm darurat, menyuntikkan hormon kortisol dan adrenalin secara brutal ke dalam darah. Tubuh menjadi hiperventilasi, oksigen di otak menurun tajam, dan akhirnya sistem saraf memutuskan untuk melakukan shutdown alias pingsan. Ini bukan infeksi perangkat keras (tubuh), melainkan glitch pada perangkat lunak (otak) yang menular lewat jaringan WiFi sosial kita: empati dan rasa takut.

V

Mempelajari histeria massal memberi kita sudut pandang yang sangat merendahkan hati. Seringkali, saat fenomena ini terjadi, masyarakat kita merespons dengan stigma. Kita menyebut korban sebagai orang yang "lemah mental", "cari perhatian", atau bahkan kesurupan. Padahal, sains menunjukkan fakta sebaliknya. Tubuh manusia bereaksi ganjil justru karena kita terhubung satu sama lain dengan sangat dalam. Otak kita didesain untuk saling merasakan penderitaan sesamanya demi bertahan hidup. Jadi, ketika esok hari kita mendengar berita tentang pingsan massal atau kesurupan massal, mari kita ubah cara kita bertanya. Alih-alih mencari hantu jenis apa yang merasuki mereka, mari kita tanyakan hal yang lebih manusiawi. Beban seberat apa yang sebenarnya sedang dipikul oleh orang-orang ini, hingga tubuh mereka sepakat untuk menyerah secara bersama-sama?